Mengenang dan menelusuri sejarah seni topeng lewat buku-buku pengetahuan sosial.agar kita semakin tau dan juga memahami bahwasanya banyak seni kebudayaan yang di tinggalkan oleh nenek moyang kita dan kita wajib mengenangnya.
Pada zaman dahulu hayam wuruk, Raja kerajaan majapahit sering banget menari sambil mengenakan topeng yang terbuat dari emas yang di kenal dengan anapuk atau anapel, Sang raja menari di lingkungan kaum perempuan sebagai sebuah persembahan, Demikian di kisahkan dalam kitab negarakertamagama dan pararaton. Tak ada catatan topeng apa yang di kenakan oleh sang raja dan siapa yang membuatnya.
Tapi sekarang topeng yang sempat di musiumkan di yogyakarta itu hilang dan sampai sekarang masih belum bisa melacak siapa yang mencurinya, Topeng itu di percaya memang milik sang rajasebagai persembahan buat neneknya yaitu putri gayatri.
Topeng tersebut juga sempat jadi saksi kemajuan teknologi dalam penyepuhan emas, Yang terdiri dari 2 macam.
Yaitu metode tuang atau metode cetak dan metode tempa atau pahat dan konon katanya topeng yang hilang itu di buat dengan menggabungkan 2 metode tersebut, Topeng ini yang menyiratkan sebuah tradisi yang kemudian kita kenal sampai sekarang yang biasanya di tunjukkan dalam pertunjukkan seni.
Beberapa tradisi di nusantara banyak yang melibatkan topeng sebagai bagian penting dari pertunjukkan mulai dari tari,teater,seni patung dan lukis.tak lupa reog ponorogo juga sangat identik dengan seni topeng.
Tari topeng memang hanya ditarikan oleh para raja yang bisa di lacak, dari perpindahan kerajaan majapahit lama berpindah ke masa kerajaan demak yang dikuasai oleh para keluarga kerajaan seiring penyebaran kekuasaan demak ke pesisir jawa hingga ke cirebon dan banten, Dan inilah sebabnya berita-berita belanda menyebutkan keberadaan tarian ini di istana banten dan cirebon.tidak heran bila kedua tempat ini sedikit banyak membawa kebudayaan jawa,demak.
Di cirebon tari topeng menjadi dekat dengan unsur dakwah islam karena wali ikut menyebarkan tarian itu dan bisa di lihat dari sumping yang berjumlah 99 yang menunjukkan asma’ul husna, Samping ini adalah hiasan di samping kepala berupa butiran-butiran sedangkan asma’ul husna adalah nama-nama allah.
Karena itu topeng menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi berkesenian di tanah air,keberadaannya bukan phanya menjadi bukti peran para raja namun juga nilai filosofis dan historis yang di kandungnya. Kehilangan topeng emas itu selayaknya menjadi sebuah peringatan buat kita agar melestarikan segenap nilai-nilai budaya lebih baik lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar