Sigmund
Frued
Menurut Freud (2003) psikoanalisis ialah sebuah metode perawatan
medis bagi orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Psikoanalisis merupakan
suatu jenis terapi yang bertujuan untuk mengobati seseorang yang mengalami
penyimpangan mental dan syaraf.Selain itu penjelasan , menurut Fudyartanta
(2005) psikoanalisis merupakan psikologi ketidak-sadaran,
perhatian-perhatiannya yang tertuju ke arah bidang-bidang yang terdiri dari motivasi, emosi, konflik,
simpton-simpton neurotik, mimpi-mimpi, dan sifat-sifat karakter. Psikoanalisis
dikembangkan oleh Sigmund Freud ketika ia menangani neurosis dan masalah mental
lainnya.
Menurut Corey (2003),
sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikoanalitik
mencakup:
(1) Kehidupan
mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia
bisa diterapkan pada peredaan penderitaan manusia.
(2) Tingkah laku diketahui sering
ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar.
(3) Perkembangan
pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di
masa dewasa.
(4) Teori
psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara
yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan
adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan.
(5) Pendekatan
psikoanalitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketaksadaran
melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan
transferensi-transferensi
Dan sedangkan dalam teori psikoanalisis yang dipakai adalah , kepribadian yang dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur dan sistem, yakni Id (Das Es), Ego (Das Ich), dan Superego (Das Uber Ich) Ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk totalitas dan tingkah laku manusia yang tak lain merupakan produk interaksi ketiganya. Id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego merupakan komponen sosial.
Dan sedangkan dalam teori psikoanalisis yang dipakai adalah , kepribadian yang dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur dan sistem, yakni Id (Das Es), Ego (Das Ich), dan Superego (Das Uber Ich) Ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk totalitas dan tingkah laku manusia yang tak lain merupakan produk interaksi ketiganya. Id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego merupakan komponen sosial.
Dasar dari
terapi psikoanalisis sendiri adalah konsep dari Sigmund Freud dan
beberapa pengikutnya. Tujuan dari psikoanalisis adalah menyadarkan
individu dari konflik yang tidak disadari serta mekanisme pertahanan (defense
mechanism) yang digunakan untuk mengendalikan kecemasan. Apabila motif
dan rasa takut yang tidak disadari telah diketahui, maka hal-hal tersebut
dapat diatasi dengan cara yang lebih rasional dan realistis. Dalam
bentuknya yang asli, terapi psikoanalisis bersifat intensif dan umunya memakan
waktu yang lama.
Disini
antara terapis dan klien umumnya bertemu selama 50 menit beberapa kali dalam
seminggu sampai beberapa tahun. Oleh karena itu agar dapat lebih efisien,
maka pertemuan dapat dilakukan dengan pembatasan waktu dan penjadwalan
waktu yang tidak terlalu sering (Atkinson dkk.,1993).
Sedangkan Teknik-teknik
dalam Psikoanalisis disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh
pemahaman intelektual atas tingkah laku klien, serta untuk memahami
makna dari beberapa gejala. Kemajuan terapeutik diawali dari pembicaraan
klien ke arah katarsis, pemahaman, hal-hal yang tidak disadari, sampai
dengan tujuan pemahaman masalah-masalah intelektual dan emosionaI. (Corey, 1995)
Untuk itu diperlukan teknik-teknik dasar psikoanalisia, yaitu terdiri dari
beberapa bentuk di antaranya adalah : Asosiasi
Bebas, Penafsiran, Analisis Mimpi, Resistensi, dan Transferensi
Asosiasi Bebas AA AsosojjjsAsosiasi
Bebas
Asosiasi
Bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta
klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan
renungan-renungan sehari-hari, serta sedapat mungkin mengatakan apa saja
yang muncul dan melintas dalam pikiran. Cara yang khas adalah dengan mempersilakan
klien berbaring di atas balai-balai sementara terapis duduk di
belakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat
asosiasinya mengalir dengan bebas (Corey, 1995).
Asosiasi
bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa
lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitandengan situasi traumatis masa
lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Katarsis hanya
menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan
pada klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam proses treatment (Corey,
1995).
Penafsiran Penafsiran (Interpretasi)
Penafsiran
merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas,
mimpi-mimpi, resistensi, dan transferensi. Caranya adalah dengan
tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan, dan mengajarkan
klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi,
asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi
dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru
dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut.
Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan
tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien (Corey, 1995)
Analisis mimpi
Analisis
mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam
bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area
masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan
melemah, sehingga perasaan-perasaan yang direpres akan muncul ke
permukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan
"jalan istimewa menuju ketidaksadaran", karena melalui
mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar
dapat diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak dapat diterima oleh
seseorang, sehingga akhimya diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau
disimbolkan dalam bentuk yang berbeda (Corey, 1995).
Mimpi
memiliki dua taraf, yaitu isi laten dan isimanifes. Isi laten
terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik,dan tidak
disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan
seksual dan perilaku agresif tak sadar (yang merupakan isi laten)
ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yaitu impian
yang tampil pada si pemimpi sebagaimana adanya. Sementara tugas terapis
adalah mengungkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari
simbol-simbol yang terdapat dalam isi manifes. Di dalam proses terapi,
terapis juga dapat meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas
sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkap makna-makna
yang terselubung (Corey, 1995).
ResistensiResistensi
Resistensi
adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah
klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan
analisis mimpi, klien dapat menunjukkan
ketidaksediaanuntukmenghubungkanpikiran,perasaan,dan pengalaman tertentu.
Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar
yang digunakan oleh klien sebagaipertahanan terhadap kecemasanyang tidak
bisa dibiarkan, yang akan meningkatjika klien menjadi sadar atas dorongan
atau perasaan yang direpres tersebut (Corey, 1995). Dalam proses
terapi, resistensi bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena
merupakan perwujudan dari pertahanan klien yang biasanya dilakukan
sehari-hari. Resistensi ini dapat dilihat sebagai sarana untuk bertahan
klien terhadap kecemasan, meski sebenamya menghambat kemampuannya untuk
menghadapi hidup yang lebih memuaskan (Corey, 1995).
TransferensiResistensi
dan transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikonalisis.
Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek
ke objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orangtua
kepada terapis. Dalam keadaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien
yang diperoleh melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang
melekat dan kasih sayang pengganti. Seperti ketika seorang klien
menjadi lekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari
orangtuanya (Chaplin, 1995).
Transferensi
mengejawantah ketika dalam proses terapi ketika "urusan yang
tidak selesai" (unfinished business) mas a lalu klien dengan
orang-orang yang dianggap berpengaruh menyebabkan klien mendistorsi dan
bereaksi terhadap terapis sebagaimana dia berekasi terhadap ayah/ibunya.
Dalam hubungannya dengan terapis, klien mengalami kembali perasaan menolak
dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakan kepada orangtuanya. Tugas
terapis adalah membangkitkan neurosis transferensi klien dengan kenetralan, objektivitas,
keanoniman, dan kepasifan yang relatif. Dengan cara ini, maka diharapkan
klien dapat menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi dan
memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat-sifat dari
fiksasi-fiksasi, konflik-konflik atau deprivasi-deprivasinya, serta
mengatakan kepada klien suatu pemahaman mengenai pengaruh masa lalu
terhadap kehidupannya saat ini (Corey, 1995).
Sumber : Internet

Tidak ada komentar:
Posting Komentar