Kamis, 28 Maret 2013

PSIKOTERAPI

(TERAPI HUMANISITIK EKSISTENSIAL)


       Banyak ahli psikologi yang berorientasi eksistensial yang mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku manusia pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu pengetahuan alam. Sebagai contoh, Bugental (1965), Rogers (1961), May (1953, 1958, 1967, 1969), Frankl (1959, 1963), Jourard (1968, 1971), Maslow (1968, 1970), dan Arbuckle (1975) yang mengemukakan kebutuhan psikologis akan suatu perspektif yang lebih luas yang mencakup pengalaman subjektif klien atas dunia pribadinya.
       Tujuan dasar banyak pendekatan psikoterapi adalah membatu individu agar mampu bertidak, menerima kebebasan dan bertanggung jawab untuk tindakan-tindakannya. Terapi eksistensial, terutama berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan tangung jawab itu saling berkaitan.
       Konsep utama psikologi eksistensial humanistik mengenai pandangan tentang mausia adalah psikologi eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu sistem teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.  Konsep-konsep utama dari pendekatan eksisitensial yang membentuk landasan bagi praktek terapeutik yaitu:
1.  Kesadaran Diri
     Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri,   suatu kesanggupan yang uni dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memututuskan. Semakinkuat kesadaran diri itu pada seseorang maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu.
2.  Kebebasan, Tanggung Jawab, Kecemasan
  kecemasan eksistensial diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati. Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya.
3. Penciptaan makna
  Pada dasarnya manusia itu unik dalam arti bahwa manusia berusaha untuk menetukan tujuan dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi, depresonalisasi, alineasi, keterasingan dan kesepian.
     Tujuan-tujuan Terapeutik
   Tujuan-tujuan terapeutik dalam terapi eksistensial adalah agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Pada dasarnya, tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan kesadaran diri klien dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya. Mereka harus memilih misalnya akan tetap berpegang pada kehidupan yang dikenalnya atau akan membuka diri pada kehidupan yang kurang pasti dan lebih menantang. Justru tiadanya jaminan-jaminan dalam kehidupan itulah yang menimbulkan kecemasan. Oleh karena itu terapi eksistensial juga bertujuan untuk membatu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa diri lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.
      Fungsi dan peran terapis,  
      Tugas utama terapi adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam dunia, karena menekankan pada pengalaman klien sekarang para terapis eksistensial menunjukan keleluasaan dalam menggunakan metode-metode dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang satu kepada klien yang lainnya tetapi juga dari satu ke lain fase terapis yang dijalani oleh klien yang sama. Buhler dan Allen (dalam Geraldy Corey,2009) sepakat bahwa psikoterapi difokuskan pada pendekatan terhadap hubungan manusiaalih-alih sistem teknik. Serta para ahli humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
  1. Mengakui pentingnya pendekatan dari tanggung jawab terapis
  2. Menyadari peran dari tanggung jawab terapis
  3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik
  4. Berorientasi pada pertumbuhan
  5. Menekankan keharusan terapi terlibat dengan klien sebagi suatu pribadi yang menyeluruh
  6. Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akan terletak ditangan kita
  7. Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis denga gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif
  8. Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan–tujuan  dan nilainya sendiri
  9. Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
     Jika klien mengungkapkan perasaan-perasaannya kepada terapi pada pertemuan terapi, maka terapis akan bertindak sebagai berikut:
  1. Memberikan reaksi pribadi dalam kaitan dengan apa yang dikatakan oleh klien
  2. Terlibat dalam sejumlah pernyataan pribadi yang relevan dan pantas tentang pengalaman-pengalaman yang mirip dengan yang dialami oleh klien
  3. Meminta pada klien untuk mengungkapkan ketakutannya terhadap keharusan memilih dalam dunia yang tak pasti
  4. Menatang klien melihat seluruh cara dia menghindari pembuatan putusan-putusan dan memberikan penilaian terhadap penghindaran itu
  5. Mendorong klien untuk memeriksa jalan hidupnya pada periode sejak memulai terapi dengan bertanya: “jika anda bisa secara ajaib kembali pada cara anda ingat kepada diri sendiri sebelum terapi, maukah anda melakukan sekarang?”
  6. Beritahu pada klien bahwa ia sedang mempelajari apa yang dialaminya sesungguhnya adalah suatu sifat yang khas sebagai manusia:bahwa dia pada akhirnya sendirian, bahwa ia harus memutuskan untuk dirinya sendiri, bahwa ia akan mengalai kecemasan atas ketidak pastian putusan-putusan yang dibuat, dan bahwa dia akan berjuang untuk menetapkan makna kehidupannya di dunia yang sering nampak tak bermakna.
        Menurut penilaian penulis, salah satu sumbangan utama dari pendekatan eksistensial humanistik adalah penekanan pada kualitas manusia kepada manusia dari hubungan terapeutik. Aspek ini mengurangi kemungkinan dehamunisasi psikoterapi yang menganggap psikoterapi sebagai proses mekanis. Juga penulis menemukan bahwa filsafat yang melandasi terapi eksistensial humanistik sangat menarik. Penulis terutama menyukai penekanan pada kebebasan, tanggung jawab dan kesanggupan individu untuk merancang ulang kehidupannya melalui tindakan memilih dengan kesadaran. Dari titik pandang penulis, model ini menyajikan suatu landasan filosofis yang jelas untuk membangun suatu gaya yang bersifat pribadi dan unik dari praktek terapi karena menunjukan dirinya kepada perjuangan manusia kontempoter. Di lain pihak, penulis mengira bahwa teori ini memiliki beberapa kekurangan yang menonjol. Banyak konsep penting dan abstrak dari eksistensialisme yang sulit dimengerti dan bahkan lebih sulit lagi untuk diterapkan pada praktek. Konsep-konsep dan perbendaharan kata yang luas dan sulit dimengerti dengan sia-sia menyulitkan proses terapeutik. Sedikitnya teknik yang dihasilkan oleh pendekatan eksistensial humanistik menjadikan para praktisi perlu mengembangkan prosedur-prosedur penemuannya sendiri atau memungutnya dari aliran-aliran terapi lain.
       Akhirnya, meskipun penulis menganggap pendekatan eksistensial humanistik memiliki banyak hal yang bisa diberikan kepada klien yang fungsi psikologis dan sosialnya relatif tinggi, penulis memandang pendekatan eksistensial-humanistik ini amat terbatas penerapannya pada para klien yang fungsinya rendah, pada para klien yang dalam keadaan krisis dan pada para klien yang miskin. Pendek kata, para klien yang berjuang untuk memenuih kebutuhan-kebutuhan pokok untuk memelihara kelangsunagn hidupnya dan tidak berminat pada aktulaisasi diri atau makna-makna eksistensial, kurang tepat untuk ditangani melalui terapi eksistensial-humanistik.

*Sumber*
Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar