Selasa, 21 Januari 2014

Client center terapy

  1. A.     Sekilas Tentang CCT / PCT
Teori Carl Ransom Rogers memberikan implikasi bagi bimbingan dan konseling.  Tujuan dasar dari teori yang dikemukakan oleh Carl R Rogers (client centered) adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh. Peran konselor client-centered berakar pada cara-cara keberadaannya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik-teknik yang dirancang untuk menjadikan klien “berbuat sesuatu” sehingga klien bisa menghilangkan pertahanan-pertahanan dan persepsi-persepsinya yang kaku serta mampu bergerak menuju taraf fungsi pribadi yang lebih tinggi. Sofyan Willis (2009) dalam bukunya yang berjudul  Konseling Keluarga menguraikan implikasi teori yang dikemukakan Carl Ransom Rogers bagi bimbingan dan konseling sebagai berikut:
  1. 1.      Tujuan Konseling
Terapi terpusat pada klien yang dikembangkan oleh Carl R Rogers pada tahun 1942 bertujuan untuk membina kepribadian klien secara integral, berdiri sendiri, dan mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri. Kepribadian yang integral adalah struktur kepribadiannya tidak terpecah artinya sesuai antara gambaran diri yang ideal (ideal-self) dengan kenyataan diri sebenarnya (actual-self). Kepribadian yang berdiri sendiri atas dasar tanggung jawab dan kemampuan. Tidak bergantung pada orang lain. Sebelum menentukan pilihan tentu individu harus memahami dirinya (kekuatan dan kelemahan diri) dan kemudian keadaan diri tersebut harus ia terima.
Untuk mencapai tujuan ini diperlukan beberapa syarat yakni:
  1. Kemampuan dan keterampilan teknik konselor.
  2. Kesiapan klien untuk menerima bimbingan.
  3. Taraf intelegensi klien yang memadai.
  4. Proses Konseling
  1. 2.      Berikut ini tahap-tahap konseling terapi terpusat pada klien.
  1. Klien datang kepada konselor atas kemauan sendiri. Apabila klien datang atas suruhan orang lain, maka konselor harus mampu menciptakan situasi yang sangat bebas dan permisif dengan tujuan agar klien memilih apakah ia akan terus minta bantuan atau akan membatalkannya.
  2. Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien, untuk itu konselor menyadarkan klien.
  3. Konselor memberanikan klien agar mampu mengemukakan perasaannya. Konselor harus bersikap ramah, bersahabat dan menerima klien sebagaimana adanya.
  4. Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya.
  5. Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan dirinya.
  6. Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil (perencanaan)
  7. Klien merealisasikan pilihannya itu.
  1. 3.      Teknik Konseling

Penekanan masalah ini adalah dalam hal filosofis dan sikap konselor ketimbang teknik, dan mengutamakan hubungan konseling ketimbang perkataan dan perbuatan konselor. Implementasi teknik konseling didasari oleh paham filsafat dan sikap konselor tersebut. Karena itu teknik konseling Rogers berkisar antara lain pada cara-cara penerimaan pernyataan dan komunikasi, menghargai orang lain dan memahaminya (klien). Karena itu dalam teknik amat digunakan sifat-sifat konselor berikut:
  1. Acceptance artinya konselor menerima klien sebagaimana adanya dengan segala masalahnya. Jadi sikap konselor adalah menerima secara netral.
  2. Congruence artinya karakteristik konselor adalah terpadu, sesuai kata dengan perbuatan dan konsisten.
  3. Understanding artinya konselor harus dapat secara akurat dan memahami secara empati dunia klien sebagaimana dilihat dari dalam diri klien itu.
  4. Nonjudgemental artinya tidak member penilaian terhadap klien, akan tetapi konselor selalu objektif.

  1. B.     Daftar Pustaka
Alwisol, (2009). Psikologi Kepribadian. UMM Press: Malang.
Corey, Gerald. (2009). Konseling dan Psikoterapi. Aditama:Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar