Kamis, 26 Januari 2012

Celoteh Anak


Belajar Bersama Anak, Melihat Cermin Diri


Dunia anak adalah dunia penuh misteri, karena dunia anak adalah dunia yang tidak bisa ditebak oleh akal dewasa. Seorang anak, kadang polos, lugu, bicaranya “telanjang” dan mencerminkan kejujuran, kritis terhadap segala hal, bahkan juga terkadang seperti layaknya orang dewasa, dia bisa bikajsana, penuh perhitungan dan bersahaja.
Dari kemisteriusan dunia anak-anak itu tersimpan berbagai makna, falsafah hidup, cerminan jiwa dan keagungan Allah Swt. Atau dengan kata lain, anak-anak adalah pengejawantahan nilai-nilai murni dari Allah untuk dipancarkan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Yang jadi masalah saat ini adalah orang sekitarnya itu tidak peka dan tidak pernah belajar terhadap anak sehingga mereka pun sering salah paham dan kemudian membuat hal-hal yang bisa merusak perkembangan anak-anaknya. Seperti dijelaskan di atas bahwasanya anak adalah pengejawantahan nilai-nilai dari Allah, yang itu berarti jika orang-orang yang ada disekitarnya bisa memahami dan bahkan menyerap nilai-nilai yang terkandung didalamnya, Dan semua itu bisa didapatkan sebuah kepastian bahwa segala perilaku yang ditimbulkan akan sangat mencerminkan nilai-nilai ketuhanan.
Ada beberapa nilai suci yang ada dalam diri anak yang jarang sekali dimiliki oleh orang dewasa. Nilai-nilai tersebut adalah : Pertama, Nilai kepasrahan total. Dalam hal ini, Seorang anak itu awalnya adalah suci bersih bagai kertas putih yang tak ternoda tinta sedikitpun, Karena suci maka apapun yang dilakukan oleh orang dewasa kepada dirinya akan diterima dengan pasrah. Totalitas kepasrahan inilah yang membuat anak itu menjadi cerminan nilai-nilai ketuhanan.
Kedua, Nilai kejujuran. Seorang anak kadang begitu telanjang mengungkapkan ketidaksukaan atau segala sesuatu yang dianggapnya ketidaksukaan atau segala sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai dengan hati nuraininya dengan melakukan perlawanan. Hal itu diwujudkannya dalam bentuk kata kritis, Sikap perilakunya yang aneh dan suka menentang, atau bentuk-bentuk lain yang dianggap orangtua atau orang sekelilingnya merasa tidak nyaman.
Ketiga, Nilai ketenangan, Seorang anak selalu memancarkan cahaya ketenangan dalam segala perilakunya. Jarang ada dalam kehidupannya sesuatu yang bisa membuatnya tidak tenang dan merasa terbebani, kecuali hal-hal yang sifatnya biologis atau hal-hal yang berkaitan dengan bentuk fisik yang memang harus dipenuhi. Dunianya adalah dunia yang sebatas dirinya, karena itulah dia akan memancarkan ketenangan dalam menghadapi hidup yang ada di sekitarnya.
Keempat, Nilai kesucian. Anak adalah pancaran nilai-nilai ketuhanan. Karena dia adalah pancaran nilai ketuhanan. Karena dia adalah pancaran nilai ketuhanan, maka sudah pasti anak memancarkan nilai-nilai kesucian. Segala perilaku dan tindak-tanduknya selalu mencerminkan nilai-nilai kesucian. Hanya manusia di sekitarnyalah yang bisa mempengaruhi dan membuatnya menjadi jiwa-jiwa yang kotor.
Kelima, Nilai keindahan. Jika kita ingin mendapatkan gambaran keindahan tuhan, Maka lihatlah pada diri seorang anak. Lihatlah pada perilaku dan sikapnya yang polos, lugu, dan tidak memancarkan nilai-nilai kejahatan. Jika suatu saat anak menjadi keras, kasar, dan suka kejahatan, maka hal itu bukan kesalahan dari anak tapi terletak pada lingkungan sekelilingnya yang telah mendidik dan mempengaruhinya.
Kelima nilai-nilai ketuhanan yang ada pada diri anak itulah yang sekiranya tergambar pada masing-masing anak. Segala contoh yang dimulai celoteh anak yang dilakukan oleh anak pun bisa memancarkan nilai-nilai tersendiri yang ada pada dirinya, Sehingga sangat layak kiranya kita sebagai orang dewasa untuk menyadari, melihat, merasakan, dan sekaligus bercermin diri, apakah kita sudah sesuai  dengan nilai-nilai tersebut ataukah tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar