Belajar Bersama Anak, Melihat Cermin Diri
Dunia
anak adalah dunia penuh misteri, karena dunia anak adalah dunia yang tidak bisa
ditebak oleh akal dewasa. Seorang anak, kadang polos, lugu, bicaranya “telanjang”
dan mencerminkan kejujuran, kritis terhadap segala hal, bahkan juga terkadang
seperti layaknya orang dewasa, dia bisa bikajsana, penuh perhitungan dan
bersahaja.
Dari
kemisteriusan dunia anak-anak itu tersimpan berbagai makna, falsafah hidup,
cerminan jiwa dan keagungan Allah Swt. Atau dengan kata lain, anak-anak adalah
pengejawantahan nilai-nilai murni dari Allah untuk dipancarkan kepada
orang-orang yang ada di sekitarnya.
Yang
jadi masalah saat ini adalah orang sekitarnya itu tidak peka dan tidak pernah
belajar terhadap anak sehingga mereka pun sering salah paham dan kemudian
membuat hal-hal yang bisa merusak perkembangan anak-anaknya. Seperti dijelaskan
di atas bahwasanya anak adalah pengejawantahan nilai-nilai dari Allah, yang itu
berarti jika orang-orang yang ada disekitarnya bisa memahami dan bahkan
menyerap nilai-nilai yang terkandung didalamnya, Dan semua itu bisa didapatkan
sebuah kepastian bahwa segala perilaku yang ditimbulkan akan sangat
mencerminkan nilai-nilai ketuhanan.
Ada
beberapa nilai suci yang ada dalam diri anak yang jarang sekali dimiliki oleh
orang dewasa. Nilai-nilai tersebut adalah : Pertama,
Nilai kepasrahan total. Dalam hal ini, Seorang anak itu awalnya adalah suci
bersih bagai kertas putih yang tak ternoda tinta sedikitpun, Karena suci maka
apapun yang dilakukan oleh orang dewasa kepada dirinya akan diterima dengan
pasrah. Totalitas kepasrahan inilah yang membuat anak itu menjadi cerminan
nilai-nilai ketuhanan.
Kedua, Nilai
kejujuran. Seorang anak kadang begitu telanjang mengungkapkan ketidaksukaan
atau segala sesuatu yang dianggapnya ketidaksukaan atau segala sesuatu yang
dianggapnya tidak sesuai dengan hati nuraininya dengan melakukan perlawanan.
Hal itu diwujudkannya dalam bentuk kata kritis, Sikap perilakunya yang aneh dan
suka menentang, atau bentuk-bentuk lain yang dianggap orangtua atau orang
sekelilingnya merasa tidak nyaman.
Ketiga, Nilai
ketenangan, Seorang anak selalu memancarkan cahaya ketenangan dalam segala
perilakunya. Jarang ada dalam kehidupannya sesuatu yang bisa membuatnya tidak
tenang dan merasa terbebani, kecuali hal-hal yang sifatnya biologis atau
hal-hal yang berkaitan dengan bentuk fisik yang memang harus dipenuhi. Dunianya
adalah dunia yang sebatas dirinya, karena itulah dia akan memancarkan
ketenangan dalam menghadapi hidup yang ada di sekitarnya.
Keempat,
Nilai kesucian. Anak adalah pancaran nilai-nilai ketuhanan. Karena dia adalah
pancaran nilai ketuhanan. Karena dia adalah pancaran nilai ketuhanan, maka
sudah pasti anak memancarkan nilai-nilai kesucian. Segala perilaku dan
tindak-tanduknya selalu mencerminkan nilai-nilai kesucian. Hanya manusia di
sekitarnyalah yang bisa mempengaruhi dan membuatnya menjadi jiwa-jiwa yang
kotor.
Kelima, Nilai
keindahan. Jika kita ingin mendapatkan gambaran keindahan tuhan, Maka lihatlah
pada diri seorang anak. Lihatlah pada perilaku dan sikapnya yang polos, lugu,
dan tidak memancarkan nilai-nilai kejahatan. Jika suatu saat anak menjadi
keras, kasar, dan suka kejahatan, maka hal itu bukan kesalahan dari anak tapi terletak
pada lingkungan sekelilingnya yang telah mendidik dan mempengaruhinya.
Kelima
nilai-nilai ketuhanan yang ada pada diri anak itulah yang sekiranya tergambar
pada masing-masing anak. Segala contoh yang dimulai celoteh anak yang dilakukan
oleh anak pun bisa memancarkan nilai-nilai tersendiri yang ada pada dirinya,
Sehingga sangat layak kiranya kita sebagai orang dewasa untuk menyadari,
melihat, merasakan, dan sekaligus bercermin diri, apakah kita sudah sesuai dengan nilai-nilai tersebut ataukah tidak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar