Sabtu, 20 November 2010

SEPEDA MINI

Tepat pada hari ini kamis, 11 nopember 2010 saya dan teman-teman pergi ke sebuah seminar untuk mengikutinya dengan judul SEPEDA MINI (Seminar Perempuan dalam Cerminan Islam) yang diadakan di Auditorium gedung M lantai 4 FISIP UI. Pembahasan dari acara ini cukup mengesankan yaitu “ No Limit to be Great” menyingkapi prestasi dibalik keterbatasan fisik.
Seminar ini di datangi oleh 3 orang pembicara yaitu Ir. Rachmita Maun Harahap (seorang dosen penyandang tuna rungu), Sri Barwati Hanifa, S. Pd. (seorang tuna netra yang bekerja di perusahaan asing).
Setelah mengikuti seminar ini kita bias memetik hikmahnya bahwasanya keterbatasan fisik itu tidak menghalangi seseorang untuk menjadi sukses. Akibat yang biasanya didapat dari penderita keterbatasan fisik yaitu sikap tidak dihargai di lingkungan sosial dan biasa mendapat lontaran kata-kata dari orang sekitar. Hal ini mereka jadikan motivasi untuk sebuah tujuan hidupnya.
Abraham Lincoln pernah berkata “Siapapun anda, apapun warna kulit anda, apapun pendidikan anda, dan darimanapun anda berasal , jadilah yang terbaik. Maka semua ornag akan menghargai anda.
Dari apa uyang di katakn oleh Abraham Lincoln kita dapat menarik sebuah kata kalau kesuksesan itu bukan dari kesempurna’an fisik.

Berharap semoga ini semua bisa memotivasikan diri kita untuk mengoptimalkan waktu yang kita miliki dengan segala kekurangan dan keterbatasan apa yang ada pada diri kita.

Jumat, 19 November 2010

Sebuah Hukuman

Pemberian sanksi atau hukuman pada dasarnya memiliki fungsi positif, yakni fungsi pendidikan dan ”penjeraan” agar pelaku kesalahan dapat belajar berperilaku lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan. Dalam realitasnya tidak sesederhana itu. Kadang penghukuman (yang tidak tepat) malah menyebabkan manusia memantapkan perilaku negatif. Banyak orang bertanya mengenai efektivitas pidana penjara, khususnya bila sistem hukum masih terkorupsi, termasuk di dalam lembaga pemasyarakatan.

    Kita perlu membedakan pemberian sanksi melalui konsep ”hukuman” (punishment) atau konsep ”penguatan negatif” (negative reinforcement). Penggunaan penguatan biasanya akan lebih baik. Contohnya, bila anak kecil menangis meraung-raung dengan berguling-gulingan di lantai, kita bisa membentak, mencubit, atau memasukkannya dalam gudang gelap (menghukum). Tetapi, kita bisa pula mendiamkannya (memberi ”penguat negatif” pada perilaku negatif), dan ketika dia berhenti menangis, kita memberikan pujian, ”Nah, anak pintar. Mama senang sekali kalau adik tidak menangis berteriak-teriak begitu. Yuk, sini mama peluk (memberi ’penguat positif pada perilaku positif’).”

     Dalam budaya-budaya tertentu ada yang bilang: kalau anak dan murid-muridnya  hanya mempan apabila dipukul. Kalau tidak, mereka melunjak, Bila sedari awal anak dihadapi dengan sikap-sikap menghukum, apalagi yang berlebihan, kita sebenarnya sedang memantapkan perilaku negatif karena anak menjadi tidak mengerti apa yang sebenarnya positif (sedikit-sedikit dapat hukuman), malah mungkin mencari perhatian (karena perhatian hanya diperoleh ketika ia ”bandel”). Atau, ia akan memantapkan perasaan bingung, kecil hati, marah, malahan dendam.
Dan hal tersebut masuk dalam mekanisme pertahan diri yang bersifat regresi (kembali pada fase sebelumnya) seperti contoh lain, anak kecil yang sudah tidak mengompol, punya adik lagi kemudian si anak merasa setelah kehadiran adiknya dia tidak dapat perhatian dari orangtuanya maka dengan cara mengompol lagi ia menarik perhatian orangtuanya.

Mekanisme pertahanan diri

Kadang kita melakukan ketidak adilan kepada orang lain karena proses ”mekanisme pertahanan diri”. Yang tidak setia kepada pasangan menjadi mudah cemburu dan menghukum pasangannya hanya karena pasangan bicara dengan lawan jenis (proyeksi kesalahan sendiri). Yang merasa diperlakukan tidak adil oleh orang yang lebih berkuasa seperi contoh seorang karyawan yang  merasa sangat marah terhadap atasannya, tetapi tidak berani membalas. Akibatnya di rumah ia marah-marah kepada istrinya. Istrinya yang merasa kesal, tetapi tidak berani membalas, kemudian membentak-bentak anak (displacement atau pemindahan sasaran kepada pihak yang kurang berbahaya).

     Ada penelitian dari
Martin Seligman, yang memperlihatkan betapa anjing yang dalam waktu lama sudah jungkir balik berupaya keluar dari kandang yang disetrum listrik, tetapi tidak berhasil akan kehilangan daya. Ketika setrum dihentikan dan kandang dibuka, ia mungkin sudah lemas dan kehilangan energi untuk keluar. Ini dapat diterapkan untuk menjelaskan pesimisme dan depresi kepada korban KDRT. Bahkan, orang yang merasa tidak berdaya dan tidak dapat melawan kekuatan luar, mungkin akan mengarahkan perasaan kecewa dan marah kepada diri sendiri. Demikianlah ia kemudian menyalahkan dan menghukum diri sendiri.

StiGma paDa aNak

Dalam keadaan "lupa diri" akibat emosi yang meluap sering kaliakan terlontar kata-kata yang memberi label pada anak. Entah "anak bandel", "anak penakut", "anak cengeng", dan sebagainya. Menurut ahli, pemberian label/cap atau juga disebut stigma akan memberi bekas dalam diri anak dan mempengaruhi pembentukan konsep dirinya. 

     Bagi anak, label tersebut adalah suatu imej diri bahwa
aku seperti itu. Jadi, lama-lama akan terbentuk dalam benaknya, "Oh, aku ini bandel, toh."menurut Dra. S.Z. Enny Hanum,  bila si pemberi label adalah orang yang mempunyai kedekatan emosi dengan anak semisal orang tua atau pengasuhnya, pengaruhnya akan sangat besar dan cepat buat anak. "Anak akan jadi ragu pada dirinya sendiri, 'Oh, jadi aku seperti itu. Orang tuaku sendiri mengatakan demikian, kok.'"

    Sekalipun dia masih kanak-kanak, atau anak yang belum memahami makna sebenarnya dari kata-kata label itu, namun ia bisa merasakan sesuatu yang tidak nyaman dengan dilontarkannya label itu. "Ia seakan-akan tidak diterima dengan adanya label itu, ada sesuatu yang ditolak. Jadi, anak tidak tahu apa itu label baginya. Ia hanya merasakan sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan, atau merasa tidak nyaman. 

    Namun bukan berarti ia akan diam saja. Ia akan melampiaskan perasaan tidak nyaman itu dengan berbagai cara sebagai bentuk protes. Tapi bentuk protesnya berbeda dengan anak remaja yang kalau dibilang "nakal" malah sengaja dibikin nakal, "
Ah, sekalian aja aku nakal karena aku sudah terlanjur dinilai demikian." Melainkan dalam bentuk di luar kebiasa’anya seperti ketika anak yang sudah di nilai oleh orangtuanya main dengan temannya tanpa mengerti waktu, si anak tidak akan asing kalau mendengar orangtuanya memarahinya karena itu adalah penilaian orangtuanya selama ini terhadapnya.


    Penting diketahui, perilaku/reaksi demikian juga akan muncul bila anak menemukan suatu situasi yang hampir mirip dengan di perlakuan orangtua terhadapnya. Misalnya, tetangga atau orang-orang di sekelilingnya yang menilai dirinya sama seperti orangtuanya maka label seperti itu akan sering dilakukannya. Tidak demikian halnya bila ia menemukan situasi dimana ia merasa dipahami, dimengerti, dan komunikasinya menyenangkan, maka perilaku protesnya tidak akan keluar. 

Tapi, bila anak semakin sering protes dan orangtua pun jadi semakin sering marah, tentunya label tersebut akan juga semakin sering dilontarkan. Kalau sudah begitu, lambat laun akhirnya anak percaya bahwa dirinya memang nakal, misalnya. Konsep dirinya jadi salah.

Seharunya sebelum memberi label sebaiknya dijelaskan dalam hal apa ia nakal atau jeleknya karena bisa saja anak melakukan sesuatu dalam niatan yang lain, Orang tua harus menyebutkan apa kesalahan anak sehingga ia dikatakan nakal. "Kalau ia mengganggu adik, misalnya, jelaskan bahwa kamu mengganggu adik padahal waktunya adik tidur. Jadi, anak diberi tahu, nakalnya kamu itu karena mengganggu adik." 

Dengan demikian anak tahu kenapa dirinya dikatakan nakal, sehingga dapat mencegah terjadinya pembentukan KONSEP DIRI yang salah. Selain itu, sebaiknya orang tua juga memberlakukan berbagai aturan di rumah. Bila aturan dilanggar, ada sangsinya dan sebaliknya, bila dikerjakan, ada rewards. Tentu sebelumnya aturan tersebut sudah dibicarakan dengan anak sehingga ia memahaminya




     Telah dijelaskan oleh Burn(1993) bahwasanya konsep diri adalah kesan terhadap diri sendiri, pendapat tentang gambaran diri di mata orang lain, dan pendapatnya tentang hal-hal yang di capai.
     Sedangkan Calhoun dan Acocela telah mengemukakan tentang sumber informasi yang penting dalam pembentukan konsep diri antara lain:
a ) Orangtua, karena orangtua adalah kontak social yang paling awal  dan     
 yang paling kuat yang akan di terima oleh individu.

b) Teman sebaya, karena selain individu membutuhkan cinta dari orangtua juga membutuhkan penerimaan dari teman-teman sebaya dan apa yang di ungkapkan pada dirinya akan menjadi penilaian terhadap diri individu tersebut.

c) Masyarakat, karena dalam masyarakat terdapat norma-norma yang akan membentuk konsep diri pada individu, misalnya pemberian perlakuan yang berbeda pada laki-laki dan perempuan akan membuat mereka akan berbeda dalam berprilaku.

Selasa, 09 November 2010

Si kembar berkomunikasi dengan telepti

Fenomena anak kembar yang seolah di luar nalar manusia, selalu menarik. Bila yang satu cedera misalnya, kembarannya ikut merasa sakit meski terpisah secara fisik. Yang satu sedih, nun di sana kembarannya menangis tanpa tahu sebabnya. Saat jatuh cinta pun, bisa terpikat pada orang yang sama.
   
Faktor herediter diyakini berperan penting dalam terjadinya kehamilan kembar. Umumnya keluarga yang punya anak kembar, ada riwayat kelahiran kembar di antara kerabatnya. Banyak jenis kelahiran kembar, ada kembar dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, bahkan delapan. Itu sebabnya dalam bahasa Inggris fenomena anak kembar diistilahkan multiples, sedangkan secara spesifik sebutan untuk kembar dua adalah twins.
sering terdapat komunikasi aneh yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri
Sampai saat ini belum jelas kode genetika mana yang membawa sifat-sifat kembar. Berdasarkan sifat, anak kembar dibedakan menjadi dua, yakni kembar identik (kembar siam) dan kembar tidak identik.  Kembar siam benar-benar mirip satu sama lain, baik fisik maupun sifat psikologisnya. Bahkan, sering terdapat komunikasi aneh yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri.

**Pengaruh Gen
   Namun, fenomena khas tadi hanya ditemui pada anak kembar identik. Jarang terjadi ada fenomena khas pada kembar tidak identik. Menurut psikolog anak, Seto Mulyadi, yang juga memiliki kembaran Kresno Mulyadi, kesamaan preferensi itu bisa berkembang bukan hanya karena mereka tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama, melainkan juga karena dipengaruhi faktor genetika.


   
 Ada dua jenis saudara kembar, yaitu kembar monozigot dan kembar dizigot. Kembar monozigot berasal dari satu sel telur. Kembar jenis inilah yang sering disebut kembar identik. Kembar dizigot berasal dari dua sel telur yang berbeda, dan disebut kembar tidak identik.

   Kembar monozigot memiliki kromosom dan gen yang sama. Itu sebabnya memiliki sifat yang mirip dan kesamaan preferensi. Mereka memiliki pengaturan watak yang sama dalam hal perasaan, pemikiran, dan tindakan, meski bisa juga terjadi perbedaan karena faktor lingkungan
. Itu sebabnya kemungkinan jika ada seorang yang kembar yang satunya sakit maka kembaranya satunya juga akan merasakan hal yang sama.


Respon cepat


     Perasaan saling terhubung juga lebih kuat pada kembar identik dibanding nonidentik. Karena itu, ada fenomena istimewa, yakni kemampuan untuk menemukan keberadaan kembarannya di manapun. omunikasi di antara orang kembar itu masih diliputi misteri. Ada yang menyatakan bahwa dua anak kembar yang masih muda berkomunikasi secara eksklusif melalui telepati
.


    Telepati adalah kemampuan respons yang sangat cepat dari seorang anak terhadap kembarannya, Tak mengherankan, mereka sangat sensitif dan tepat dalam mengartikan bahasa tubuh kembarannya karena tumbuh bersama hampir sepanjang waktu.

     Kedua, anak kembar umumnya berperilaku dengan cara sama, misalnya cara makan, berjalan, cara merespons, hobi dan kegemaran yang sama. Kesamaan itu umumnya terjadi pada anak kembar identik dan sangat jarang pada kembar tidak identik, sehingga bisa jadi dikarenakan faktor genetik.

     Namun, seringkali yang terjadi adalah peniruan perilaku biasa. Salah satu anak melakukan tindakan lebih dulu, lalu yang lain mengamati dan menirunya. Hanya karena mereka memiliki respons sangat cepat, peniruan itu tidak teramati oleh orang-orang sekitarnya. Lalu orang-orang menyimpulkan kalau mereka memiliki telepati.

http://health.kompas.com/read/2010/10/18/14191135/Si.Kembar.Berkomunikasi.Lewat.Telepati

Jumat, 05 November 2010

//.. '' Kamu Dan Dia ''.. //

Keputusan kamu di malam itu
Tinggalkan sesak dan pedih
Hati yang terluka kini mulai
Mencoba perlahan berdiri
Ku akan terima keputusan ini
Dan coba jalani tanpa kamu lagi
Disini di sudut kota tanpa nama
Air mata tak tertahankan
Sesak dan piluh menyerbu kalbu
Sa’at pandanganku tertuju pada kamu
Kamu yang duduk di samping sahabatku
Sahabat yang juga mencintaimu
Sama seperti aku ..  ..  ..  .
Semoga jiwa yang menemani kamu
Tak pernah mendua seperti dirimu
Tak pernah terbagi seperti hatiku
Cinta ini akan selalu menatap kamu
Walau gelap akan menghalangi
Pandanganku.. .. .. 

Kehadiran_mOe

Engkau muncul bagai mentari di pagi hari
Harimu memberi harapan baru dalam hatiku
Dan kau telah terangi hati ini dengan sinar
Kasih sayangmu.
Ku ingin merangkai seuntai kasih cinta
Dengan dirimu yang akan membuat kita
Terbang merasakan kebahagiaan dalam jiwa
Bagai percikan alunan nada nurani yang menggema
Menjelma menjadi raga cinta
Yang ada di dalam sukma yang membara
Cinta ini bukan pelangi
Yang begitu indah menghiasi hati lalu pergi
Menghilang saat kau membutuhkan keindahan itu
Cinta ini bagai mentari yang akan memberi kehangatan
Saat kau merasa dingin
Yang akan memberi kegelapan saat kau terlelap
Walau kadang terasa panas percayalah itu demi
Kebahagiaanmu dan mentari yang akan menyinari mu
Tanpa ada kata lelah


















Dear:
py2 n my2

Rabu, 03 November 2010

Harapan_Ku

Dera angin menyentuh jiwa
Menghapus tanpa arah
Menghantarkan ku dalam angan
Terbang dengan membawa
Separuh hati yang tak lagi utuh
Mencari kebahagiaan dalam hidup
Mengisi hati dengan cinta
Memanjakan jiwa dengan kasih
Sayang yang kau beri
Kau-lah tulang rusukyang telah hilang
Dan kau di ciptakan untuk menyempurnakan
Hidup ini
Akankah kesetiaan dan ketulusan yang
Kau beikan mampu melaksanakan
Kasih itu
Cinta dan harapan melebur jadi satu
Dalam hati
Walau semua itu tak pasti
Ku akan selalu berdo’a agar
Semua itu bukan hayalan
Dan mimpi