Jumat, 10 Juni 2011

Nilai Sebagai Formalitas Anak Belajar


1.      Nilai E masih relevan kah?
2.      Apakah arti dari sebuah nilai E?
Nilai E, secara Psikologis itu masih relevan, Dalam artian  bisa dikatakan sebagai tanda nilai dari ketidakmampuan anak dalam suatu bidang-bidang tertentu.
Disini saya akan contohkan seorang anak yang masih duduk di bangku kelas 1 SD. Suatu saat anak merasa tepuruk mendapati nilai di raportnya, yang salah satunya mendapat nilai E. Katakan saja nilai E tersebut jatuh pada bidang matematika sedangkan untuk bidang atau pelajaran yang lain anak mendapatkan nilai yang lumayan meskipun belum bisa di bilang mencapai angka maksimal yaitu antara B dan C. Karena nilainya yang kurang menjamin anak untuk naik kelas hanya gara-gara ada yang didapati E anak harus mengulang kelas atau dalam bahasa lainnya anak tidak naik kelas dan harus tinggal di bangku kelas 1 lagi.
Secara psikologis anak cenderung akan terucilkan baik secara internal ataupun eksternal karena si anak  harus mengulang pelajaran tersebut seperti selalu di banding-bandingkan sesama saudaranya, teman-temannya, dan tetangganya dirumah oleh orangtuanya (internal), dan selalu dipojokan dengan ledekin temannya karena anak tidak bisa naik kelas seperti yang lain (eksternal). Adakalanya anak  juga harus mulai bisa menerima kenyatan itu sebagai pendoman untuk membuktikan dan berusaha untuk mendapatkan nilai yang lebih bagus dari E.
Ketidaknaikkan anak ketingkatan sesuai dengan kelas hanya gara-gara ada salah satu nilai yang cenderung buruk sebenarnya tidaklah harus seperti tidak naik kelas karena itu hanyalah akan  merusak pikologis anak,  Jadi seharusnya lembaga-lembaga harus mulai  membuat aturan bagi setiap anak yang disalah satu bidangnya mendapati nilai yang kurang menjamin untuk anak naik kelas dengan cara supaya anak masih di ikutkan atau dimasukan ke tinggkatan sesuai dengan yang telah di ikuti selama ini tetapi yang harus digaris bawahi anak harus mengulang (mengikuti) bidang yang dirasa kurang dikuasainya seperti matematik tersebut. Dan untuk pelajaran-pelajaran formal dikelas yang dimasukinya anak  juga wajib mengikutinya seperti teman-teman yang lainnya. Dalam kata lain anak di anjurkan untung mengulang kelas matematika kelas 1 untuk memperbaiki nilainya sebelumnya dan  untuk membantu anak untuk memahami tingkatan-tingkatan pelajaran matematika selanjutnya di kelas tingkatan-tingkatan kemudaian. Karena Basiclly anak yang kurang mamahami pelajaran yang pertama yang di ajarkan oleh guru maka untuk pemahaman bab-bab berikutnya anak akan mengalami kesulitan.
*Vila’s Note. .

Gangguan Kepribadian


Gangguan kepribadian didefinisikan sebagai pola pengalaman dan perilaku tidak wajar sehubungan dengan pemikiran, perasaan, hubungan pribadi, dan pengendalian dorongan keinginan.
Karakter-karakter seseorang diperlihatkan oleh kepribadiannya, yakni oleh pola pikir, perasaan, dan perilaku kebiasaan yang dimilikinya. Bila orang itu tidak dapat menyesuaikan diri dengan orang lain dan cendeung antisosial, maka ia dapat di asosiakan menderita gangguan kepribadian.
Kebanyakan gangguan kepribadaian bukanlah penyakit dalam arti sebenarnya, karena mereka tidak memiliki masalah emosional, kecerdasan, atau pencerapan indrawi. Meskipun demikian, orang yang menderita gangguan kepribadian mengalami kehidupan yang tidak menyenangkan. Tidak mengherankan bila penderita gangguan kepribadian juga dihubungkan dengan kegagalan mencapai tujuan.
Disini akan saya jelaskan 10 dari macam-macam gejala gangguan kepribadian yang diidentifikasikan dalam DSM-VI (Diagnostic and Statistical manual of mental Disoders) seperti yang di telah di jelaskan dibuku yang diterbikan oleh American psychiatric Association, yaitu:
1.    Gangguan antisosial (Antisocial personality Disorder).   
Yaitu kurangnya penghargaan atas nilai-nilai moral yang dianut oleh masyarakat. Ini ditandai dengan ketidaksanggupan untuk hidup berdampingan dengan orang lain atau mematuhi aturan-aturan masyarakat. Gangguan seperti ini juga sering disebut psikopat/sosiopat.
2.    Gangguan kepribadian antisosial atau sikap menghindar (Avoidant Personality Disorder).
 Ditandai dengan penginderaan secara sosial, rasa tidak setara dengan orang lain, serta luar biasa sensitif terhadap kritik.
3.    Kondisi psikologis yang tidak stabil (Borderline Personality Disorder = BPD).
Yakni kurangnya kesadaran akan identitas pribadi, perubahan gejolak perasaan yang begitu cepat, hubungan antar pribadi yang kurang stabil dalam panadangan terhadap diri sendiri.
4.    Gangguan pola ketergantungan terhadap oranglain (Dependent Personality Disorder = DPD).
Yaitu  rasa tergantung yang berlebihan terhadap orang lain. Penderita tidak sanggup membuat keputusan apapun tanpa bantuan oranglain. Rasa takut bila berpisah dengan oranglain serta memiliki sikap patuh yang berlebihan. Oleh karena itu, gangguan sejenis ini ditandai oleh ketidaksanggupan sendiri serta kurangnya rasa percaya diri.
5.    Gemar berpura-pura (Histrionic Personality Disorder = HPD).
Orang dengan gangguan ini kerap memperlihatkan reaksi berlebihan terhadap berbagai situasi emosional dan selalu bersikap pura-pura (seolah-olah sedang bermain sandiwara atau drama) dalam perilaku sehari-hari. Ekspresi emosional selalu beubaj-ubah dengan cepatnya.
6.    Gangguan kepribadian yang menghambakan diri sendiri (narsitik) (Narcissistic Personality Disorder = NPD).
 Orang dengan gangguan jenis ini selalu mengkhayalkan kebesaran atau keagunggan diri sendiri, kurang berempati terhadap orang lain, sangat mendambakan untuk di hormati oranglain, dan tidak sanggup melihat sudut pandang orang lain, serta terlalu sensitif pada pendapat orang lain.
7.    Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Obsesive-Compulsive Personality Disorder).
 Di cirikan oleh sikap mendambakan kesempurnaan yang berlebihan (Perfeksionis) dan terlalu kaku. Dikuasai oleh pola-pola pikiran dan tingkah laku yang tidak terkendali.
8.    Gangguan kepribadian berupa rasa takut berlebihan pada sesuatu atau orang lain (paranoid) (Paranoid Personality Disoder = PPD).
Ditandai oleh rasa tidak percaya berlebihan terhadap orang lain, termasuk ketakutan tidak beralasan bahwa orang menindas, membahayakan, atau mencoba menyerang dirinya. Merasa bahwa orang lain senantiasa menipu mereka,. Percaya pada makna-makna tersembunyi, dan tidak sanggup memaafkan karena senantiasa mendendam.
9.    Gangguan kepribadian skizoid (Shizoid Personality Disoder).
Pada umumya, ditandai oleh variasi emosi terbatas, baik dalam mengekspresikan atau mengalami sesuatu, dan dingin terhadap relasi sosial.
10.                    Gangguan kepribadian skizotipal (Schizotypal Personality Disorder).
Yakni, Penyimpangan pola pikir, keyakinan ganjil, dan penampilan, preilaku, pola hubungan dengan orang lain, serta pemikiran yang tidak wajar (seperti meyakini bahwa ia mengalami fenomena-fenomena gaib dan memiliki kekuatan gaib).

A.J. Maharani dkk. Kiat Mengatasi Gangguan Kepribadian.
Maguwoharjo, Depok, Sleman, Jogjakarta.
Ar-Ruzz Madia.